EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch

RussianPortugueseJapaneseKoreanArabic Chinese Simplified

Selamat Datang di Websiteku | Sebuah web yang berisikan segudang Ilmu yang bermanfaat silahkan baca Tulisan Inspiratif Yang semoga saja dapat memberikan Ilmu dan pemahaman baru bagi para pembaca | Jangan Lupa Like dan Tinggalkan Pesan Anda Pada Kotak Pesan Disamping Kanan |

Minggu, 30 November 2014

MAKALAH ASBAB AN NUZUL

ASBAB AN NUZUL

PEMBAHASAN

A. Waktu dan turunnya Al-Qur’an
Sebagai wahyu Ilahi, Al-Qur’an disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. melalui proses yang disebut inzal yakni proses perwujudan Al_Qur’an (izhar Al-Qur’an). Cara yang ditempuh adalah Allah mengajarkan kepada Malaikat Jibril, lalu Malaikat Jibril menyampaikannya kembali kepada Nabi Muhammad saw.
Ramadhan tahun 41 kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H. proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. adalah melalui tiga tahapan, yaitu:
Pertama Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh,suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S. Al-buruj (85) ayat 21-22:

بَلْ ھُوَقُرْاٰنٌ مَجِدٌ. فِيْ لَوْحٍٍ مَحْفُوْظٍ. (البروج:٢١-٢٢)
Artinya:
Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam lauh al-mahfuzh. (Q.S. Al-Buruj: 21-22)
Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan dari lauh al-mahfuzh itu ke bait al-izzah (tempat yang ada di langit dua). Proses kedua ini disyaratkan Allah dalam surat Al-Qodar (97) ayat 1:

اِنَّآاَنْزَلْنٰه ُ فِيْ لَيْلَةٍ الْقَدْرِ. (القدر: ١)
Artinya:
Sesungguhnya kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam kemulyaan. (S.Q. Al-Qadar) Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari bait al-izzah ke dalam hati Nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Ada kalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan kadang-kadang satu surat. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga diisyaratkan dalam Q.S. asy-Syu’ara’ (26) ayat 193:195:

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ اﻻَْمِيْنُ. عَلَى قَلْبِكَ لَتَكُوْنَ مِنْ اْلمُنْذِرِيْنَ. بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ. (اﻠﺸﻌﺭﺍﺀ: ١٩٣- ١٩٥)
Artinya:
… Dia dibawa turun oleh ar-ruh al-amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang yang member peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Q.S. Asy-Syuara’: 193-195)

B. Pengertian Asbab An-nuzul
Secara etimologis, asbab an-nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata asbab (jamak dari sabab yang berarti sebab atau latar belakang) dan nuzul berari turun. Jadi asbab an-nuzul ialah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Namun dalam pemakaiannya ungkapan asbab an-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud yang secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadis.
Banyak pengertian terminology yang dirumuskan oleh para ulama, di antaranya:
1. Menurut M. Hasbi ash-Shiddieqi
Asbab An-Nuzul ialah kejadian yang karenanya di turunkan Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya pada saat kejadian-kejadian itu timbul dan suasana yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan, serta membicarakan sebab-musababnya, baik yang diturunakan secara langsung sesudah sebab-musabab itu terjadi maupun kemudian lantaran sesuatu hikmah.
2. Menurut Nurcholis Madjid
Asbab An-Nuzul merukan konsep, teori, atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw., baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat, maupun satu surat.

3. Menurut Ash-Shabuni
Asbab An-Nuzul ialah peristiwa ayau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli diatas dapat diambil dua kategori sebab turunnya sebuah ayat. Pertama, sebuah ayat turun ketika terjadi sebuah peristiwa.Kedua, sebuah ayat turun bila Rasulullah Saw. ditanya tentang suatu hal.
Bentuk-bentuk peristiwa yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an itu sangat beragam, diantaranya berupa: konflik sosial, kesalahan besar, dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan o salah seorang sahabat kepada Nabi, berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat, sedang, atau yang akan terjadi.

C. Urgensi dan Kegunaan Asbab An-Nuzul
Az-Zarqani dan As-Suyuthi mensyinyalir adanya kalangan yang berpendapat bahwa mengetahui asbab an-nuzul merupakan hal yang sia-sia dalam memahami Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba memahami Al-Qur’an dengan meletakkan ke dalam konteks histori ialah sama dengan membatasi pesan-pesannya pada ruang dan waktu tertentu. Namun, keberatan seperti ini tidaklah berdasar, karena tidak mungkin menguniversalkan pesan Al-Qur’andi luar masa dan tempat pewahyuan, kecuali melalui pemahaman yang semestinya terhadap makna Al-Qur’an dalam konteks kesejarahannya.
Sementara itu, mayoritas ulama sepakat bahwa konteks kesejarahan yang terakumulasi dalam riwayat-riwayat asbab an-nuzul merupakan satu hal yang signifikan untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an. Dalam hal ini Az-Zarqani mengemukakan urgensi asbab an-nuzul dalam memahami Al-Qur’an, sebagai berikut:
1. Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-Qur’an,
2. Mengatasi keraguan ayat-ayat yang diduga mengandung pengertian umum,
3. Mengkhususkan hokum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an,
4. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan ayat Al-Qur’an turun,
5. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya.

D. Macam-macam Asbab An-Nuzul
1. Dilihat dari sudut pandang redaksi-redaksi yang dipergunakan dalam riwayat asbab an-nuzul Ada dua jenis redaksi yang digunakan oleh perawi dalam mriwayatkan asbab an-nuzul. Pertama, sharih (jelas dan tegas). Contoh riwayat asbab an-nuzul yang menggunakan redaksi sharih ialah sebuah riwayat yang dibawakan oleh Jabir bahwa orang-orang Yahudi berkata, “Apabila seorang suami mendatangi “qubul” istrinya dari belakang, anak yang lahir akan juling”. Maka turunlah ayat:

ﻨِﺴَٓﺎﺀُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَاْتُوْاحَرْثَكُمْ انّٰى شِٔتُمْ. (البقرة: ٢٢٣)
Artinya:
Istri-istri mu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam mu itu bagaimana saja kamu hendaki”. (Q.S. Al-Baqarah: 223)
Kedua, muhtamilah (kemungkinan, tidak tegas dan jelas). Contoh riwayat asbab an-nuzul yang menggunakan redaksi muhtamilah, sebagaimana di tuturkan oleh Az-Zarkasy dalam kitabnya Al-Burhan Fi ‘Ulum Al-Qur’an yang artinya:
“Sebagaimana diketahui, telah terjadi kebiasaan para sahabat Nabi dan tabi’in, jika seorang di antara mereka berkata, ‘Ayat ini di turunkan berkenaan dengan _’. Maka yang dimaksud adalah ayat itu mencakup ketentuan hukum tentang ini atau itu, dan bukan bermaksud menguraikan sebab turunnya ayat”.
2. Dilihat dari sudut pandang berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat atau berbilangnya ayat untuk asbab an-nuzul

a. Berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat ( ta’addud as-sabab wa nazil al-wahid) Pada kenyataanya, tidak setiap ayat memiliki riwayat asbab an-nuzul dalam satu versi. Adakalanya satu ayat memiliki beberapa versi riwayat asbab an-nuzul. Tentu saja, hal itu tidak akan menjadi persoalan bila riwayat-riwayat iu mengandung kontradiksi. Bentuk variasi itu terkadang dalam redaksinya dan terkadang pula dalam kualitasnya. Untuk mengatasi variasi riwayat asbab an- nuzul dalam satu ayat dari sisi redaksi, para ulama mengemukakan cara-cara berikut:
1. Tidak mempermasalahkannya,
2. Mengambil versi riwayat asbab an-nuzul yang menggunakan redaksi sharih,
3. Mengambil versi riwayat yang shahih (valid).

b. Variasi ayat untuk satu sebab (ta’addud nazil wa as-sabab al-wahid)
Terkadang suatu kejadian menjadi sebab bagi turunnya, dua ayat atau lebih. Hal ini dalam ‘Ulum Al-Qur’an diseut dngan istilah “ta’addud nazil wa as-sabab al-wahid” (terbilang ayat yang turun, sedangkan sebab turunnya satu).


0 komentar:

Posting Komentar